Sabtu, 09 Februari 2013

Untitled


Aku berlari mengejar layangan
putus menggantung di tiang listrik
bersama angin sore yang ramah
dan rintik gerimis yang basah

pada bulan yang memberi kabar
bahwa layangan tiang listrik telah hilang
demi debu yang berserakan
demi daun yang bertebaran
adakah yang ingin membantu? Mencari layangan hilang
entah di tiang mana lagi dia hinggap

Barangkali itulah hakikat dunia.
Ketidakpastian yang nyata sekali.
Misteri yang harus kita tebak dengan menjalaninya dengan telanjang kaki.
Layang-layang pergi menembus langit.
Seperti dunia yang akan pergi menembus mata.
Akankah kita terus mencari dunia seperti mencari layang?
Ataukah kita pergi dengan leher tertunduk menyesali kelalaian menguasai layang
sehingga layang pergi?
Mari tanyakan pada tanah yang bersaksi..
Apakah dunia juga menunggu untuk dicari?

Atau malah senyap membiarkan kita terus termangu mencari yang lenyap.
Bagai ranting yang terpelesat dari rimbun pohon yang meneduhkan.
Entahlah, yang kurasa hanya kibasan tarian angin di sore hari.
Setia menyapa senja di lengkung cakrawala yang bisu.
Atau bagai karang yang hanya diam diterpa deburan ombak.
Dan tak berkutik menyaksikan dirinya terkikis secara perlahan.
Persis seperti keheningan malam yang kujumpai di leher duka.
Apa itu namanya? Aku pun tak pernah tahu.

Mungkin benar itulah hakikat dunia.
Hakikat yang melayangkan pilihan di setiap ayunan langkah.
Ke kiri atau ke kanan.
Menari bersama hembusan nafas penantian yang tersungkur dengan diam.
Atau malah menjadi penjara yang membatasi langkahnya hingga mendekat pada kematian.
Dan hanya kaki-kaki yang melangkah dengan benarlah yang menang, membawa riang layang-layang yang terbang bahkan dulu pernah hilang.
Pemilik kaki-kaki itu mendesah, menebar guratan senyum kebahagiaan.
Dan sisanya, belum mendapatkan. Barangkali tak menemukan.
Atau bisa jadi, mereka malah ikut hilang disandera gumpalan awan yang menyalak dengan garang.Entahlah...

Oleh : Dinda Delia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar