Kalau kau baca bab Mahar
di buku Laskar Pelangi, kau pasti temui bagaimana nasib bisa tiba-tiba
mencuatkan bakat ke langit-langit atau malah sebaliknya, dengan kejam
menguburnya hidup-hidup. Di siang berhawa neraka itu Mahar bisa saja
terlewatkan oleh Bu Muslimah atau barangkali terjangkit batuk kering dan
lupa menelan pil APC. Hasilnya lagu Tennesse Waltz tidak akan mengalun hikmat. Dan Maharpun tetap dipandang tak lebih dari teman sekelasnya: laskar pengkhianat nada.
Nasib macam inilah yang mempertemukan temanku Bangkit—Tukang Uap julukannya—dengan buku merah muda setebal sekitar tiga senti yang belakangan ini banyak tampil di media massa, terselip di rak buku pejabat atau terlihat di set FTV. Benar, buku itu berjudul Laskar Pelangi.
Sebelumnya ia tak pernah sekalipun melirik buku ini. Pak Nasir—guru bahasa Indonesia—pernah menggembar-gemborkan soal kesaktian buku ini di depan kelas berkali-kali.
“Buku ini bagus! Mengisahkan perjuangan di masa sekolah yang menyenangkan sekaligus mengharukan!”
Aku tidak menyalahkan persuasifitas Pak Nasir. Hanya saja yang kutangkap dari kalimatnya adalah buku itu bercerita tentang kisah picisan remaja SMA yang didrama-dramakan. Di sudut sana Bangkit menguap lebar.
Seingatku tidak ada bencana semacam nyalo di sini semalam. Aneh saja tiba-tiba pagi-pagi esoknya Bangkit mendatangiku lalu menyodorkan buku merah muda yang sudah tak asing: Laskar Pelangi. “Buku ini hebat! Buku ini hebat! Coba kau baca satu bab saja!”tawarnya.
Aku membaca satu bab secara random. Yang terpilih olehku adalah bab 12 halaman 127, judulnya Mahar. Setelah membacanya tak dapat kupungkiri kalau buku ini menarik, kata-katanya indah bercahaya. Buku itu kupinjam dan kuselesaikan malam itu juga. Ternyata buku ini memang hebat. Yang lebih hebat lagi, setelah buku itu “menemui” Bangkit, ia tiba-tiba ikut bercahaya. Tak ada uapan lagi. Dalam sekejap Bangkit si Abu Naum di kelas menjelma menjadi cemerlang, aktif dengan ide yang meluap-luap. Dalam pertunjukan drama di kelas ia diganjar gelar Sutradara Terbaik. Pak Nasir memujinya habis-habisan. Tak hanya itu, ia juga mendadak menjadi pemusik, menjadi pemain akordeon untuk mengisi tarian daerah Seluang Mudik. Tak tanggung-tanggung, kelompok tarinya diundang mengisi acara pernikahan putri bupati.
Nasib macam inilah yang mempertemukan temanku Bangkit—Tukang Uap julukannya—dengan buku merah muda setebal sekitar tiga senti yang belakangan ini banyak tampil di media massa, terselip di rak buku pejabat atau terlihat di set FTV. Benar, buku itu berjudul Laskar Pelangi.
Sebelumnya ia tak pernah sekalipun melirik buku ini. Pak Nasir—guru bahasa Indonesia—pernah menggembar-gemborkan soal kesaktian buku ini di depan kelas berkali-kali.
“Buku ini bagus! Mengisahkan perjuangan di masa sekolah yang menyenangkan sekaligus mengharukan!”
Aku tidak menyalahkan persuasifitas Pak Nasir. Hanya saja yang kutangkap dari kalimatnya adalah buku itu bercerita tentang kisah picisan remaja SMA yang didrama-dramakan. Di sudut sana Bangkit menguap lebar.
Seingatku tidak ada bencana semacam nyalo di sini semalam. Aneh saja tiba-tiba pagi-pagi esoknya Bangkit mendatangiku lalu menyodorkan buku merah muda yang sudah tak asing: Laskar Pelangi. “Buku ini hebat! Buku ini hebat! Coba kau baca satu bab saja!”tawarnya.
Aku membaca satu bab secara random. Yang terpilih olehku adalah bab 12 halaman 127, judulnya Mahar. Setelah membacanya tak dapat kupungkiri kalau buku ini menarik, kata-katanya indah bercahaya. Buku itu kupinjam dan kuselesaikan malam itu juga. Ternyata buku ini memang hebat. Yang lebih hebat lagi, setelah buku itu “menemui” Bangkit, ia tiba-tiba ikut bercahaya. Tak ada uapan lagi. Dalam sekejap Bangkit si Abu Naum di kelas menjelma menjadi cemerlang, aktif dengan ide yang meluap-luap. Dalam pertunjukan drama di kelas ia diganjar gelar Sutradara Terbaik. Pak Nasir memujinya habis-habisan. Tak hanya itu, ia juga mendadak menjadi pemusik, menjadi pemain akordeon untuk mengisi tarian daerah Seluang Mudik. Tak tanggung-tanggung, kelompok tarinya diundang mengisi acara pernikahan putri bupati.

